sdr

Pengalaman Ke Tea Factory: Kerja Apa Nongkrong?

Kemarin, aku bersama beberapa teman freelancer dan blogger memutuskan untuk mengunjungi Tea Factory Yogyakarta, yang beralamat di Jl. Bumijo No.2, Jetis. Seperti biasanya, aku kesana untuk bekerja sekaligus nongkrong sambil ngrasani kanca-kancane.

Aku baru pertama kali mengunjungi Tea Factory, dan ini adalah kesan dan pendapatku mengenai tempat ini jika digunakan untuk bekerja.

Ruangan

terdiri dari dua ruangan, yaitu ruangan non-smoking dan smoking area. Keduanya memiliki interior yang bagus. Ada meja dan kursi tinggi khas bar yang letaknya berada di ruangan merokok.

Yang menjadi nilai minus dari tempat ini adalah area parkirnya yang kecil.

kursi dan meja tinggi

Akses Internet

Kecepatan internet di tempat ini cukup kencang. Aku lupa untuk melakukan speedtest, namun aku bisa melakukan download banyak file dalam waktu singkat.

Akses internet yang disediakan oleh Tea Factory bisa kalian gunakan secara gratis, alias tidak ada biaya tambahan seperti yang ada di Super Hotspot Cafe Merapi.

Pengalaman

Bukan tempat favorit untuk bekerja, lebih cocok buat ngobrol santai bareng teman atau mungkin klien.

Tapi jika ingin bekerja di tempat ini, saranku pilihlah ruangan yang non-smoking karena tidak terlalu terganggu dengan kendaraan yang lewat.

Meski bukan jalan utama, jalan tersebut sering dijadikan jalan alternatif untuk orang-orang yang malas mendapati kemacetan di sekitaran Jl Diponegoro.

Lain-lain

Tea factory tidak menyediakan musholla. Jadi buat yang ingin mengerjakan sholat, kalian harus nebeng sholat di mushola yang ada di kantor pemerintahan yang letaknya persis di seberang dari tea Factory.

Makanan yang disajikan terdiri dari snack dan makanan besar. Seperti namanya, menu khas dari tempat tersebut adalah teh ala Taiwan dengan berbagai pilihan (aku memesan Vietnam Coffee).

Harganya juga cukup terjangkau, mulai dari 10 ribuan hingga 20 ribuan.

Sebagai digital nomad, aku memberi skor 7/10 untuk Tea Factory.

2 Comments

Tinggalkan Balasan